Skip to main content

Posts

Hikayat

Berapa banyak manusia di saat ini Sore dan pagi menjalani peperangan Menghadapi pertempuran dengan diri sendiri Ohhh.. Dunia Ohhh.. Duka Dan terperangkap di antara suara pedang Dengan segala cara mencoba tuk bertahan Lalu mengharapkan seteguk air yang jernih Sementara aku Ohhh.. tidak Ohhh.. tidak Jadikanlah daku insan yang selalu Pandai berterima kasih pada khalayak Yang terbalut sisi sukma yang positif Di dalam kisah ku yang singkat ini Demikian lah basah hujan menghapus air mata
Recent posts

Fana

Jika mencintaimu suatu penderitaan yang paling Jadikanlah aku yang paling menangis, yang paling banyak di terpa Apa dayaku dengan segala kerak lumpur yang melekat Tak terbatas air mata penyesalan  Ketika aku tidak menghidupkan nya dalam atma Mengutus yang tersirat dalam hati, Natiq dan Hayawan Aku tau Engkau dekat Tapi jarak wujud yang membuatku merasa jauh Engkau tau tanpa diberitakan Sebagaimana aku anak kecil yang menangis kelaparan Menarik perhatian sang pemilik rahim, ku terima kadarku  Semoga diteguhkan sukma ku agar tidak membuat - Mu murka Yang tidak pernah mengeluh perkara jagat Aku berhajat agar ter-akui dan tunduk kepada Tunggal Meski kalah akan terpaan ardi fana Maaf.. Tunduk pada-Mu Wahai Pelindungku

Ternyata Kita

Biasa hanya sebatas umpan Tak seteguh ikrar Menjulang tinggi terlihat nista Insan jadi alegori Laksana lupa menjadi alasan Lemah nya saja busuk pasti tak akan mampu Ternyata kita Tak mampu berdaya Rapuh juga layuh Hanyalah siratan Menunjuk satu dan kembali empat Uhh uhh lusuh - Sang hakekat tak Bisa berdusta Betapa keruhnya kita Tetapi selalu terbuka pintu Sadar akannya lemah jiwa insani Hai untukmu dan untukku yang sakit jiwa nya bersama perputaran Hai untukmu dan untukku yang tenang nya malampun sudah hasad kepada kita Persiapkan untuk kemana cinta kita semestinya berlabuh Sekarang silahkan tersenyum sambil berlaga Waktunya singkat Sesingkat akal ku serta kamu

Musykil

Jangan mimpi kembali bisa jadi pacaarku Cinta putih sudahlah ternida hitam Rindu dendam memang tak jarang mengundang resah Air mata sia-sia meng-hiba Kendati kesalahan yang terlalu menyakitkan hati Memaksa memilih jalan hidup sendiri disini Selamat tinggal kekasih jalang.. Tak ada semoga ku lagi.. Perjalanan yang kita banggakan Hanya melutut kepada nafsu Nakalmu seperti bunga yang latar Sebagaimana Tuna-Susila Serupa para pendayang liar.. Trendy pacarku dibilang extreme Dibilang pacarku itu musykil Buas seperti serigala liar Liar-liar siap menerkam Terlalu benar-benar mencekam.. Trendy pacarku dibilang extreme Dibilang pacarku itu musykil Ku tak mau hidup bersamamu Sungguh aku takut dosa..

Semacam Persiapan

Kosong tapi baik Kering tapi mampu dan kuasa Bungkam tapi semerbak Tak bersuara pun bergelora Itulah abnormalitas nya bila dimahirkan.. Yang menundukan namun juga tunduk Yang berkuasa namun juga tidak kuasa Resistansasi, dengar lalu lakukan itulah fundamentalisnya Aktifkan rasional aktif yang tidak terlihat Frekuensi tinggi lalu ber-prioritas Singkatnya, Garis itu mati Mati itu pasti Pasti itu terjalin Maka jalin lah semampunya.

Esensial

Kita terlalu banyak omong, mengumbar kata tanpa buat Dimana penjagaan moral? Dimana pengertian dari baik dan buruk? Tanpa realitas sama dengan terberantas. Cukuplah letakan pada tempatnya, seperti moral di atas teori-moral Jangan jual murah cinta jika untuk bertahta Jangan jual murah cinta jika untuk berharta Jangan jual murah cinta jika untuk bersyahwat Salahkan aku diantara ketiga nya karena sama-sama tidak setia. Esensial Tuan - Tuan untuk mengenal dan merindu Pecinta bermata buta dan mempunyai telinga pun tuli pada cela keburukan dari yang di cinta Pecinta membahagiakan yang dicinta dan mencegahmu dari yang busuk, keniscayaan.

Terasing

Tidak biasa seperti teman akrab di alam raga namun enggan berbahasa hanya di rasa, Rasanya seperti gagah tapi menari dalam ketidak anggapan hawa, Cahaya tuh senantiasa hadir tetapi sering kali mata hati tidak giat, Mengunakan mata untuk memandang, dalam perhitungan hati tak karuan, wajar sang hati tak punya mata. Kian lama pecah menjadi kecil-kecil lalu tidak tampak lagi wujudnya, Bias, lebur, larut, binasa Rusak, remuk, sudah biasa Aku tak punya bakat untuk berterima kasih dengan baik kepada mahluk - mahluk berakal budi yang menjadi kurir etika dari 6 ribuan bahasa suci meski mereka tidak bersih. Yang di perlintasan, yang di balai, yang bersahabat dengan tekanan, dan semua pejuang yang berdaulat diri demi yang berada di surga dunia, ku ucapkan terima kasih sudah menjadi bagian bulir positif dalam atmosphere cerita singkat ku di alam ini, demikian hujan yang telah menghapus air mata.