Tidak biasa seperti teman akrab di alam raga namun enggan berbahasa hanya di rasa,
Rasanya seperti gagah tapi menari dalam ketidak anggapan hawa,
Cahaya tuh senantiasa hadir tetapi sering kali mata hati tidak giat,
Mengunakan mata untuk memandang, dalam perhitungan hati tak karuan, wajar sang hati tak punya mata.
Kian lama pecah menjadi kecil-kecil lalu tidak tampak lagi wujudnya,
Bias, lebur, larut, binasa
Rusak, remuk, sudah biasa
Aku tak punya bakat untuk berterima kasih dengan baik kepada mahluk - mahluk berakal budi yang menjadi kurir etika dari 6 ribuan bahasa suci meski mereka tidak bersih.
Yang di perlintasan, yang di balai, yang bersahabat dengan tekanan, dan semua pejuang yang berdaulat diri demi yang berada di surga dunia, ku ucapkan terima kasih sudah menjadi bagian bulir positif dalam atmosphere cerita singkat ku di alam ini, demikian hujan yang telah menghapus air mata.
Rasanya seperti gagah tapi menari dalam ketidak anggapan hawa,
Cahaya tuh senantiasa hadir tetapi sering kali mata hati tidak giat,
Mengunakan mata untuk memandang, dalam perhitungan hati tak karuan, wajar sang hati tak punya mata.
Kian lama pecah menjadi kecil-kecil lalu tidak tampak lagi wujudnya,
Bias, lebur, larut, binasa
Rusak, remuk, sudah biasa
Aku tak punya bakat untuk berterima kasih dengan baik kepada mahluk - mahluk berakal budi yang menjadi kurir etika dari 6 ribuan bahasa suci meski mereka tidak bersih.
Yang di perlintasan, yang di balai, yang bersahabat dengan tekanan, dan semua pejuang yang berdaulat diri demi yang berada di surga dunia, ku ucapkan terima kasih sudah menjadi bagian bulir positif dalam atmosphere cerita singkat ku di alam ini, demikian hujan yang telah menghapus air mata.
Comments
Post a Comment